Siapa yang tak kenal magic jar? Rasanya hampir semua dari kita tahu, bahkan telah lama menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ya, magic jar adalah alat pemanas nasi. Teknologi ini lahir sebagai jawaban atas keinginan masyarakat akan masakan yang selalu hangat saat disantap. Dengan pemanas nasi –magic jar-, kita tak perlu direpotkan lagi dengan menghangatkan makanan di atas kompor atau tungku saat akan bersantap.
Nyaman memang. Kita bisa menghemat waktu dan tidak perlu repot. Namun pernahkah kita berpikir, apakah langkah kita sudah benar dengan menggunakan magic jar untuk memanaskan makanan terutama nasi?
Magic jar adalah peralatan listrik rumah tangga yang menjadi primadona penduduk Indonesia. Diperkirakan peralatan ini dimiliki sekitar sepertiga dari 34 juta pelanggan PLN di Indonesia. Bisa dikatakan hampir 11 juta pelanggan PLN memiliki dan mengoperasikan magic jar.
Meski konsumsi listriknya sekitar 50 watt, tapi peralatan ini biasanya dioperasikan selama 24 selama sehari. Yang menyedihkan, seringkali pengguna magic jar memanaskan sekepal nasi hingga semalaman nasinya kering dan warnanya menguning. Di paginya, nasi “kuning” itu hanya akan dibuang ke tempat sampah.
Kita akan tertegun jika tahu berapa listrik yang dikonsumsi perilaku masyarakat saat menggunakan peralatan ini. Bila dihitung, konsumsi listrik magic jar dalam sehari secara nasional sangat luar biasa. Yakni sebesar 11 juta x 50 x 24 jam = 13200 Mega Watt Hour (MWH) atau 13,2 Giga Watt Hour.
Konsumsi listrik sebesar itu melebihi kapasitas pembangkit listrik yang sedang dibangun PLN di seluruh Indonesia (dikenal dengan nama proyek percepatan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tahap I) sebesar 10 ribu MW. Padalah untuk membangun pembangkit tersebut, pemerintah bersama PLN dan pihak swasta membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.
Langkah Bijak
Sesungguhnya kita bisa melakukan penghematan dengan tanpa mengurangi kenyamanan. Perilaku pemborosan listrik melalui magic jar yang dioperasikan selama 24 jam non stop selama sehari mesti kita hindari. Apalagi hanya digunakan untuk memanaskan semangkok nasi sepanjang hari. Caranya sederhana, yakni dengan mengatur waktu masak dan waktu bersantap.
Sebagai gambaran, di beberapa negara ASEAN seperti Filipina dan Thailand, penduduk di sana masih menggunakan rice cooker yang hanya dihidupkan seperlunya. Jika mereka bisa mengapa kita melakukan hal yang sama? Jangan biarkan perilaku boros kita hanya demi sedikit ”kenyamanan” dan keegoisan kita!
Kodrat Indonesia sebagai negara tropis memunculkan keluhan tersendiri. Udara yang cenderung panas sepanjang tahun bisa bikin gerah siapa saja. Masyarakat pun makin akrab dengan “teknologi” yang mampu melenyapkan keluhan itu dengan gampang.
Adalah Air Conditioniner atau yang lebih dikenal warga dengan “AC”. Di beberapa kalangan masyarakat, AC kini menjadi kebutuhan hidup. Untuk alasan kenyamanan, AC lazim terlihat di rumah-rumah. Tak perlu mencari rumah mewah untuk bisa melihat kotak besar warna putih tergantung di dinding luar rumah.
Di gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan AC lebih lebih diterima sebagai fasilitas standar. Berdasar hasil penelitian, penggunaan AC di pusat-pusat bisnis tersebut berkontribusi hingga 70% dari total konsumsi listrik.
Agar tagihan listrik di hunian kita tidak menguras kantong, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Tentu tanpa mengurangi kenyamanan. Kuncinya, kita mampu mengontrol pemakaiannya. Berikut caranya;
- Sesuaikan kapasitas AC dengan ukuran ruangan anda.
Satuan daya AC di pasaran biasa dikenal sebagai PK (Paard Kracht). PK adalah sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan BTU (British Thermal Unit). BTU berfungsi menentukan tingkat kesejukan udara yang dihasilkan. Semakin tinggi tingkat kedinginan, maka semakin besar PK nya.
Untuk menghitung PK AC yang dibutuhkan dapat digunakan rumusan:
Panjang ruangan (m) x lebar ruangan (m) x tinggi ruangan/3 (m) x 500.
Standar yang berlaku selama ini adalah sbb: 1/2 PK = 5000 BTU/hr, 3/4 PK = 7000 BTU/hr, dan 1 PK = 9000 BTU/hr. - Jangan letakkan perangkat AC tepat di atas pintu ruangan.
Pasalnya, ini akan membuat udara lebih mudah keluar ke ruangan yang lain. Kondisi ini jelas akan membuat AC bekerja jauh lebih keras untuk menyegarkan ruangan saat pintu dibuka. - Jangan letakkan perangkat AC terlalu dekat dengan atap/plafon.
Pasalnya, AC mengambil udara dari atas sehingga bila terlalu dekat dengan plafon akan menyebabkan ruang udara yang masuk tidak maksimal karena ruangannya sempit. - Mencuci filter AC secara teratur sebulan sekali. Juga lakukan pencucian evaporator teratur tiga bulan sekali.
- Mematikan AC saat tidak digunakan atau pun sedang bepergian.
- Selalu menutup pintu saat Anda keluar masuk ruangan. Ini supaya AC tidak terlalu banyak mengkonsumsi listrik demi menjaga kesegaran ruangan.
- Mengatur suhu AC sesuai kebutuhan. Semakin dingin suhu maka konsumsi listriknya juga semakin besar. Akan lebih bijak jika suhu diatur sesuai anjuran pemerintah, yaitu pada angka 25 derajat Celcius.
Salah satu penyebab terjadinya kebakaran di Indoensia adalah penggunaan kabel dengan kualitas rendah. Disarankan jangan membeli kabel hanya karena tergiur dengan harga yang murah.
Kebakaran terjadi karena timbulnya percikan api saat kabel dialiri arus listrik yang besarannya jauh melampaui batas kemampuannya. Jika di dekat kabel itu ada bahan yang mudah terbakar maka percikan api dari kabel yang isolasinya (bungkus pengaman kabel) sudah meleleh akan cepat menjalar. Standarnya, kemampuan daya hantar arus maksimal kabel sampai 3 kali daya yang tertera.
Kondisi akan semakin parah bila kabel yang digunakan kualitasnya tidak memenuhi standar SNI (Standar Nasional Indonesia). Hanya dialiri dengan arus yang melebihi dari arus maksimumnya (tidak sampai tiga kali spesifikasi yang dijanjikan), isolasi kabel sudah meleleh.
Pada banyak kabel yang tidak memenuhi standar SNI, lelehan isolasi ini dapat mengeluarkan api. Bila lelehan ini jatuh atau menempel pada bahan yang mudah terbakar, akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kebakaran.
Kondisi akan jauh berbeda jika kita menggunakan kabel sesuai standar SNI. Ketika arus mengalir melebihi tiga kali kemampuan maksimumnya, isolasi kabel yang meleleh akan hangus. Lelehan isolasi pun tidak ada yang menempel pada bahan-bahan di sekelilingnya.
Oleh sebab itu, kami sarankan: utamakan kualitas saat membeli kabel untuk instalasi listrik sesuai SNI. Meski harganya terlihat lebih mahal, tetapi keamanan gedung dan keselamatan kita lebih terjamin. Dibanding kita membeli kabel yang harganya murah tetapi resiko kebakarannya lebih besar.
Selain itu, yang patut diperhatikan lagi adalah jeli memilih ukuran kabel. Sesuaikan ukuran kabel dengan peralatan yang akan kita gunakan. Contoh kecil, gunakan jenis kabel berukuran 2,5 mm untuk lampu. Untuk penggunaan peralatan listrik lainnya, misalnya kulkas, sesuaikan dengan standar yang berlaku.
Untuk menjaga keselamatan, kami juga menyarankan untuk secara kontinu memeriksa instalasi listrik di rumah maupun gedung minimal tujuh tahun sekali. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengganti kabel instalasi yang kondisinya sudah tidak memadai akibat sudah aus atau terkelupas karena digigit binatang.
Bukankah mencegah dengan sedikit berkorban akan lebih baik daripada keselamatan diri dan gedung terabaikan?